Singkat kata singkat cerita, sebenarnya kata “Bakteriofag (Bacteriophage)” berasal dari bahasa Yunani (Greek) yaitu Bakteria (Bacteria) dan Phagus (Phagein). Secara umum Bakteriofag merupakan semua jenis virus yang dapat menginfeksi bakteri, yang mana virus ini dapat berkembang dengan memanfaatkan bakteri inangnya.
Sekitar tahun 1917, Ilmuan yang bekerja di Pasteur Institute, Paris berhasil mengidentifikasi keberadaan”makhluk tidak kasat mata” dalam filtrat infeksius sebagai sebuah virus yang menginfeksi bakteri penyebab penyakit Disentri, meskipun sebelumnya Filtrat infeksius serupa telah terdeteksi keberadaan sekitar akhir abad 18 (1896). Dikarenakan sifat dari kespesifikan virus ini yang hanya menginfeksi bakteri, maka virus ini kemudian dikenal dengan Bakteriofag.
Seperti halnya kebanyakan virus, bakteriofag memili komponen/struktur penyusun yang serupa yaitu mantel protein dan asam nukleat. Adapun asam nukleat dari bakteriofag itu sendiri dapat berupa ssDNA, ssRNA, dsDNA, dan dsRNA (ss: untai tungal, ds: untai ganda). Bentuk untaian asam nukleat tersebut umumnya linier, circular maupun segmented.
Asal usul dari bakteriofag itu sendiri masih dalam perdebatan, ada yang mengatakan bahwa bakteriofag berasal dari bakteri itu sendiri yang kemudian bereplikasi secara mandiri, ada yang mengatakan sebagai asal usul plasmid bagi bakteri, bahkan ada yang mengatakan sebagai sebuah virus yang bermutasi sehingga bisa menginfeksi bakteri.
Dilihat dari prilaku bakterifag, beberapa bakteriofag dapat menyisipkan asam nukleatnya dengan asam nukleat bakteri inang (fase lisogenik) dan dapa juga langsung menyebabkan lisisnya bakteri inang dengan menghasilkan beberapa enzim yang berperan dalam pelisisan tersebut. Enzim ini sangat dikenal dengan sebutan “Endolisin”.
Bakteriofag pada bakteri di dunia pertanian telah banyak ditemui khususnya bakteri-bakteri penting dan umum seperti pada Agrobakterium, Pseudomonads, Bacillus, Xylella dan lainnya. Kebanyakan dari bakteriofag diperuntukan bagi keperluan molekuler dan pengendalian hayati. Namun tidak banyak yang mengetahui seberapa penting hubungan interaksi antara bakteriofag terhadap inangnya. Beberapa diantaranya dapat meningkatkan kemampuan bakteri sebagai penyebab penyakit pada tumbuhan, kemampuan bakteri untuk resisten terhadap antibiotik dan bahan kimia tertentu bahkan mungkin di antaranya ada yang menghasilkan toksin yang dapat mempercepat kematian tumbuhan inang seperti halnya pada bakteri hewan dan manusia, Bakteri penyebab diare. Oleh karena itu penting sekali diketahui seberapa besar pengaruh interaksi bakteriofag terhadap bakteri inangnya sebelum kemudian digunakan untuk keperluan molekuler atau pengendalian hayati.
Manfaat Bakteriofag pada dunia pertanian.
Vektor untuk keperluan Kloning molekular. Mungkin telah banyak diketahui bahwa beberapa bakteriofag dapat bermanfaat sebagai alat molekuler paling efektif karena kemampuannya mereplikasi asam nukleatnya secara mandiri. Sebut saja pada “plasmid vektor”. Memang beberapa bakteri secara alami memiliki plasmid yang ukurannya bervariasi
mulai dari beberapa ribu basepair bahkan sampai mega basepair. Mengingat dalam kegiatan molekular, penggunaan plasmid vektor sangat penting untuk mempelajari kegunaan gen tertentu contohnya. Sayangnya beberapa bakteri tidak memiliki plasmid yang kompetible (biasanya high copy, ukurannya tidak terlalu besar dan dapat bereplikasi secara mandiri pada sel bakteri inang). Kendala ini ditemui pada bakteri-bakteri dengan ukuran plasmid yang sangat besar seperti pada Ralstonia (hingga mega basepair) atau pada Xanthomonas, sehingga pemetaan plasmid itu sendiri menjadi sulit. Sebuah plasmid dapat dibuat menjadi sebuah vektor jika telah dipetakan berdasarkan urutan asam nukleatnya. Untuk memanipulasi ini, beberapa bakteriofag khususnya dari golongan filamentous phages sangat berguna untuk keperluan ini karena ukurannya yang kecil (5-9 kb). Sebagai contoh vektor yang digunakan adalah Vektor S yang merupakan turunan dari filamentous phage RSS1 pada Ralstonia solanacearum. Namun tidak menutup kemungkinan dari jenis lain seperti Bakteriofag Lambda untuk Erwinia.
Keperluan deteksi
keberadaan bakteri tertentu. Untuk hal ini, pemanfaatan bakteriofag dapat diterapkan dengan fungsi utamanya sebagai plasmid ataupun vektor. Dengan sedikit modifikasi asam nukleat pada phage-based vector/plasmid, misalnya dengan menambahkan/menyisipkan gen tertentu yang mempermudah pendeteksian maka hal ini akan sangat berguna sekali. Sebagai contoh dengan menyipkan gen ketahanan terhadap antibiotik atau penghasil warna tertentu (GFP). Beberapa laporan menunjukkan bahwa penggunaan GFP (Green Fluoroscens Protein) sangat efektif untuk melakukan pendeteksian terutama monitoring keberadaan bakteri yang sebelumnya telah ditranformasikan phage-based plasmid yang membawa GFP. Contoh nyata adalah pemanfaatan phage-based plasmid/vector untuk keperluan monitoring pergerakan bakteri Penyebab layu pada Tanaman yang disebabkan oleh R. solanacearum (Pub-1, Pub-2). (Bersambung).