Electrospray ionization (ESI) merupakan teknik yang digunakan dalam mass spectrometri untuk menghasilkan ion. Khususnya untuk menghasilkan ion dari makromolekul karena ada kecenderungan molekul tersebut menjadi fragment saat diionisasi. Pengembangan electrospray ionization untuk analisa makromolekul biologi merupakan sebuah kerja keras jadi John Bennet Fenn pada tahun 2002 dan memperoleh sebuah Nobel dibidang Kimia. Satu dari instrumen asli yang digunakan oleh Dr. Fenn saat ini di pajang di Chemical Heritage Foundation in Philadelphia, Pennsylvania.
Mass spectrometry yang menggunakan teknologi ESI disebut dengan electrospray ionization mass spectrometry (ESI-MS) atau juga dengan sebutan electrospray mass spectrometry (ES-MS).
Teori dan Sejarah
Fenomena electrospray telah diketahui ratusan tahun yang lalu, tapi hingga permulaan abad ke 20, masih belum ada pengetahuan yang signifikan tentang fenomena ini. Hingga pada 30 tahun yang lalu, percobaan yang dilakukan oleh Malcom Dole dan kawan-kawan berhasil mendemonstrasikan penggunaan electrospray untuk mengioninasi senyawa kimia hingga dan teknik electrospray ionisation (ESI) inipun ditemukan. 20 tahun berlalu hingga pada akhirnya Laboratorium dimana John Fenn bekerja, berhasil mendemonstrasikan untuk pertama kalinya penggunaan ESI untuk ionisasi senyawa biologi dan analisanya dengan mass spectrometri. Hasil upaya ini membuahkan hasil sebuah Nobel pada tahun 2002 dibidang kimia yang juga merupakan Nobel ke-4 yang diberikan atas upaya pengembangan dibidang mass spectrometri. Pada publikasi asil sekitar akhir 1980-an, Fenn dan teman-temanya berhasil mendemonstrasikan prinsip dan metodologi eksperimen dasar dari teknik ESI yang meliputi soft ionisation dari senyawa involatil dan termolabil, protein dengan banyak muatan ionisasi kompleks. ESI-MS saat ini merupakan alat dasat yang dingunakan hampir di seluruh laboratorium biokimia di dunia.
Gambar 1. ESI
Alat ESI terus dikembangkankan tapi secara umum susunan dari komponen dasarnya sama (Gambar). Analit dimasukan dalam larutan dari jarum pompa atau aliran eluen dari liquid chromatography. Kecepatan aliran yang biasa digunakan adalah 1µl min-1. Selanjutnya analit mengalir melewati jarum electrospray yang memiliki tegangan tinggi yang berbeda (berasal dari counter electrode) (biasanya berkisar 2.5 sampai 4 kV). Ini meningkatkan semprotan dari tetesan sampel yang bermuatan ion dari jarum pada permukaan yang juga bermuatan dan berpolaritas sama dengan muatan pada jarum. Tetesan dikeluarkan dari jarum menuju alat sumber sampel yang berupa kerucut pada kotak elektroda (Warna biru). Selanjutnya tetesan sampel tersebut akan melewati ruang di antara jarum dan kerucut dan selanjutnya pelarut sampel akan terevaporasi.

Gambar. 2: Skema ESI
Ketika solvent (pelarut) terevaporasi, maka tetesan akan menguap hingga batas tegangan permukaan (the Rayleigh limit) dimana “Coulombic explosion” terjadi dan tetesan menjadi bagian-bagian (serpihan). Hal ini akan menghasilkan tetesan-tetesan kecil yang dapat diulang terus menerus hingga menghasilkan analit (tanpa pelarut) yang telah bermuatan ion. Molekul yang bermuatan ini dapat berupa molekul yang bermuatan ion tunggal ataupun bermuatan ion lebih dari satu. Cara ini merupakan metode paling murni dalam ionisasi dimana sangat kecil sekali residu energi yang tersisa dari analit ketika ionisasi. Oleh karena itu mengapa ESI-MS merupakan teknik penting dalam kajian biologis dimana analit yang diperlukan biasanya berupa molekul-protein non-kovalen atau protein-protein interaction secara tidak langsung ditransfer ke fase gas. Kelemahan utama dari teknik ini adalah sangat kecilnya (biasanya tidak ada) terjadinya fermentasi.

Gambar 3. Skema pembentukan ion pada analit dengan ESI-MS
Satu dari permasalahan utama pada analisa protein dengan mass spectal (and makromolekul lainnya) dan selalu muncul adalah massa yang berada diluar range massa mass spektrometer pada umumnya. Sebelum dikembangkan ESI, hanya ada satu cara metode ionisasi yang dilakukan yaitu dengan melakukan analisa sampel dengan fast atom bombardment (FAB). Tapi teknik ini menghasilkan predominansi dari muatan ion tunggal dan yang paling baik adalah beberapa muatan ion pada kisaran instrumen yang mencapai m/z 8 kDa. Hanya cara tersebut yang dapat dilakukan untuk mendigesti protein dan menganalisa campuran tersebut. Meskipun digesti protein masih merupakan teknik yang penting dalam mass spektrometri, hal ini menjadi relatif lebih mudah untuk mendapatkan secara langsung mass protein yang akan diukur dengan ESI-MS. Muatan beberapa ion secara statistik terdistribusi pada sisi-sisi dasar protein. Gambar berikut menunjukkan karakteristik analisa dengan ESI mass spectrum pada sampel myoglobin hati kuda (16.9 kDa). Puncak teramanai merupakan hasil adanya pengaruh dari muatan-muatan ion, pada kasus ini muatan adalah roughly Gaussian yang terdistribusi rata-rata +15 muatan dengan kisaran +22 hingga +10. Distribusi aktual dari muatan ion ini tergantung pada sejumlah faktor, tapi umumnya kondisi elektrospray memiliki pengaruh yang sangat besar pada distribusi muatan ion sebagaimana halnya struktur dari protein.

Sebuah tutorial yang cukup baik pada aplikasi ESIMS untuk ilmu biologi dan biokimia telah dipublikasikan oleh Komunitas Biokimia. Sedangkan untuk level tinggi (Graduate Student) dipublikasi oleh Simon Gaskell pada tahun 1997.
Daftar Pustaka
[1] S. Chapman; Physical Review, 10; 1937; p184.
[2] M. Dole et al.; Journal of Chemical Physics, 49; 1968, p2240 and Journal of Chemical Physics, 50; 1970, p4977.
[3] J.B. Fenn et al.; Journal of Physical Chemistry, 88; 1984, p4451 and Zeitschrift für Physik D, 10; 1988, p361 and Science, 246; 1989, p64.
[4] J.B. Fenn; Agewandte Chemie – International Edition, 42; 2003, p3871.
[5] B.N.Pramanik, A.K. Ganguly and M.L. Gross; Applied Electrospray Mass Spectrometry – Volume 32 of the Practical Spectroscopy Series. Pub. Marcel Dekker, New York, 2002, ISBN: 0-8274-0618-8.
[6]W. J. Griffiths et al.; Biochemical Journal, 355; 2001, p545.
[7] S.J.Gaskell; Journal of Mass Spectrometry, 32, 1997, p677.

Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia, komputer, biologi molekular, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala. Di bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan rekombinan DNA, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan terhadap hama maupun tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.

